Suka duka mencari tempat tinggal di Jakarta

Sekitar setahun yang lalu tepatnya oktober 2010, saya memasuki kota Jakarta. Sudah berulang kali kalo sekedar masuk Jakarta, namun untuk yang kali ini benar-benar tinggal dijakarta. Karena tepatnya sejak periode itu saya pindah kerja di Jakarta. Hampir lebih dari separoh karir saya saya jalani di luar jawa, walaupun saya asli jawa. Dan semuanya adalah di ibukota propinsi.
Kadang dalam pikiran saya sering bertanya, kenapa sich, begitu banyak lowongan yang hampir sebagian besar selalu di Jakarta? Apakah karena hampir semua kantor pusat bisnis ada di Jakarta?Pertanyaan saya berikutnya kenapa juga hampir semua kantor pusat bisnis ada di Jakarta? Coba bayangkan, misalnya: Apa sich yg gak ada di Surabaya namun ada di Jakarta dari sisi bisnis?Memang agak aneh landscape mapping bisnis yang saya rasakan. Tidak bisakah dipaksa misalnya, beberapa kantor pusat Bank, atau kantor pusat telekomunikasi, atau media dipindah ke kota lain? Tapi ya sudahlah…ujung-ujungnya “Siapa suruh datang ke Jakarta?” Perputaran duit di Jakarta mungkin sedemikian besarnya, konon mencapai 75% transaksi nasional ada di Jakarta.Luar biasa..pantas, ada begitu banyak manusia yg rela menggadaikan usia nya di jalanan Jakarta yg macet.
Efek lain dari menumpuknya pusat bisnis adalah mau ditaruh dimana para pekerja professional itu?Apartemen kian menjamur tetep gak bisa menampung, kawasan sekitar Jakarta kian padat, lalu lintas jangan ditanya lagi betapa padatnya. Itupun juga belum mencover problem diatas.Nah..belakangan kian ramai status karyawan PJKA (Pulang Jum’at Kembali Ahad). Efek samping dari karyawan PJKA ini menjadikan moda transportasi menjadi penuh sesak tiap jumat dan minggu.Kebutuhan akan hal ini mungkin agak telat diantisipasi sehingga berpengaruh terhadap layanan penumpang, mulai jadwal yg sering telat, harga tiket kian mahal, belum lagi masalah calo tiket.Para karyawan PJKA ini rata-rata tidak betah dengan ritme kehidupan Jakarta yg macet, dan susah mencari tempat tinggal.
Keheranan saya yang kedua adalah perbedaan yang mencolok antara kendaraan pribadi yang hamper semua keluaran terbaru, dengan angkutan umum yang sebagian besar sudah banyak yang berkarat dimakan usia. Coba bandingkan new CRV, new avanza, new inova, harus bersaing dengan Kopaja, Metro mini, Bajaj, dsb. Di hampir semua di jalanan ibukota, ditambah lagi dengan sepeda motor, harus bersaing di jalanan yg kian sesak, dibatasi portal busway yang jalannya pun juga jarang-jarang. Sebagian besar angkutan umum yg sdh dimakan usia itu jarang penuh, bahkan lebih sering Cuma terisi seperempatnya saja, sementara busway antrian sedemikian banyak tapi jumlahnya jarang-jarang lewat. Tidak bisakah armada angkutan umum (kopaja, metromini, bajaj, dsb.yg sdh dimakan usia dan memenuhi jalanan) diganti/dialihkan ke penambahan armada busway? Nah bagaimana dengan para sopirnya yg menggantungkan diri pada angkutan umum uzur itu?APakah semua tertampung di busway? Jika dirasa kebijakannya kurang pro rakyat, tidak bisakah diimbangi dengan pajak mobil mewah yg dinaikkan 5x lipat misalnya biar imbang? Andai ini terjadi, mungkin seleksi alam akan berlangsung..yang tidak bisa survive, tanpa diminta pergipun, mereka akan bilang “Selamat tinggal Jakarta”.dan ibukota itupun tidak akan sepadat yang seperti sekarang ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>